Berita


Saat Nyeri Dada Menyerang …… (Diskusi Seputar Kesehatan Jantung)

Posted on April 14, 2011 by Putrika Gharini

http://kardiol.com/

Seperti telah diketahui bahwa jantung adalah salah satu organ penting tubuh manusia yang harus selalu dipelihara kesehatannya agar mampu bekerja secara optimal. Jantung yang sehat dapat menopang keoptimalan aktivitas manusia.

Dalam rangka meningkatkan pengetahuan seputar kesehatan jantung bagi para sivitas akademika Universitas Gadjah Mada, diadakan diskusi seputar kesehatan jantung oleh Tim P2R. Diskusi diadakan pada tanggal 14 April 2011 selama 90 menit di Ruang Multimedia Kantor Pusat UGM Bulaksumur. Pembicara yang diundang adalah seorang dokter jantung handal dari Bagian Jantung dan Kedokteran Vaskular FK UGM/SMF Jantung RS Dr. Sardjito Yogyakarta, dr. Erika Maharani, SpJP.

Diskusi diawali dengan materi tentang proses aterosklerosis dan faktor risiko yang mempengaruhi, bagaimana mengenali serangan jantung, apa yang harus dilakukan saat serangan jantung terjadi dan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan oleh para dokter jantung pada kasus-kasus tersebut. Seperti diketahui bahwa sebagai pusat rujukan regional Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian selatan,  RS Dr Sardjito, selain memiliki jajaran tim dokter jantung yang handal dan siaga 24 jam penuh, juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan sarana diagnostik dan terapetik jantung yang terlengkap.

Oleh karena adanya penumpukan lemak, kolesterol dan zat-zat lain akan terjadi plak (aterosklerosis) pada dinding pembuluh darah koroner sehingga akan terjadi penyempitan lumen pembuluh. Plak yang tidak stabil dapat pecah sehingga terjadi penyumbatan akut pembuluh darah koroner jantung. Pada saat saat itu  penderita akan mengalami serangan jantung dengan berbagai macam gejala. Akibat penyumbatan pembuluh darah jantung akan terjadi kematian otot jantung yang sayangnya tidak dapat diperbarui lagi. Oleh karenanya, dr Erika Maharani SpJP menyarankan agar para penderita sakit jantung selalu mematuhi anjuran dokter agar rutin berobat dan mengubah pola gaya hidup. Seperti telah diketahui banyak faktor risiko yang menyokong terjadinya aterosklerosis, yang terbagi atas faktor risiko yang modifiable dan non modifiable. Faktor risiko non modifiable meliputii hipertensi, diabetes, ketuaan dan faktor keturunan. Faktor risiko modifiable meliputi merokok, obesitas, aktivitas fisik dan makanan. Jika seseorang sudah memiliki faktor risiko non modifiable diharapkan dapat mengurangi faktor risiko modifiable dengan cara mengubah gaya hidup.

Diskusi dilanjutkan dengan tanya jawab antara para sivitas akademika Gadjah Mada dan dr. Erika Maharani SpJP. Banyak pertanyaan yang disampaikan, seperti apakah kejiwaan, tidur tengkurap dan minum kopi dapat mempengaruhi kesehatan jantung, dan apakah segala macam suplemen, (seperti omega-3, omega -6, coklat, wine dan herbal) dapat memperbaiki kesehatan jantung. Acara diakhiri pada pukul 16.45 dengan penyerahan kenang-kenangan UGM dari ketua UP2R, Dr. M. Edhie Purnawan MA kepada pembicara, dr. Erika Maharani SpJP.

Ulasan


Tanam kayu sejukkan bumi dan sejahterakan masyarakat

Posted on April 3, 2011 by Putrika Gharini


Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa pohon selama tumbuhnya menyerap karbon dioksida untuk proses fotosintesis dengan bantuan sinar matahari. Penanaman ratusan atau ribuan pohon yang terjadi pada acara-acara peringatan hari lingkungan atau hari bumi sedunia diharapkan dapat menyerap lebih banyak lagi gas karbon dioksida di atmosper dan sekaligus membuat bumi ini jadi lebih sejuk.

Gas karbon dioksida merupakan salah satu gas rumah kaca (green house) yang terbuang ke atmosper ketika proses pembakaran bahan bakar fosil. Dengan demikian, pohon-pohon atau hutan dapat disebut sebagai wilayah penyimpan karbon atau carbon sink. Semakin banyak jumlah pohon yang ditanam, maka semakin banyak jumlah karbon dioksida di atmosper yang dapat diserap dan pengaruh pemanasan global juga dapat dikurangi. Selain pada pohon-pohon yang masih hidup, karbon juga tersimpan pada material kayu di rumah-rumah kayu. Barangkali inilah yang tidak semua diantara kita mengetahui bahwa rumah-rumah kayu juga memiliki peran sebagai carbon sink.

Penanaman pohon di sekitar pekarangan rumah, kebun atau tanah kosong sejak lama telah dilakukan oleh masyarakat desa. Selain sebagai fungsi penghijauan dan pencegahan erosi, hutan rakyat juga memberikan nilai ekonomis pada pemiliknya karena kayu-kayu yang dihasilkan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pertukangan dan kayu bakar (pengganti minyak). Pohon-pohon yang ada di hutan rakyat umumnya ditebang pada usia muda yaitu sekitar 10 sampai 15 tahun, sehingga memiliki ukuran, kekuatan dan keawetan yang lebih rendah bila dibandingkan dengan kayu-kayu dari hutan alam. Oleh karena itu peran teknologi pengolahan dan pengawetan kayu sangat diperlukan untuk meningkatkan nilai ekonomis kayu-kayu tersebut.

Penggunaan kayu perlu ditingkatkan jumlahnya tidak hanya pada rumah-rumah kayu tapi juga pada rumah-rumah beton, misalnya pada bagian lantai, atap, furniture, pintu dan jendela karena hanya material kayu yang dapat menyimpan karbon, sedangkan beton, besi dan aluminium tidak dapat menyimpan karbon. Disamping itu, pengerjaan material kayu dapat dilakukan dengan mesin-mesin sederhana dengan konsumsi bahan bakar fosil yang rendah. Menurut hasil penelitian Forest & Wood Products Research & Development Cooperation tahun 1996, jumlah karbon yang disimpan oleh kayu adalah enambelas kali lebih banyak dari pada jumlah karbon yang dilepas pada saat pengerjaan material kayu. Lebih jauh lagi, rumah-rumah kayu secara alami menawarkan sistim heating/cooling yang lebih baik sehingga kebutuhan bahan bakar fosil untuk heating/cooling selama masa pakai bangunan bisa dibuat minimal.

Kayu merupakan material-konstruksi lokal yang berkesinambungan. Kayu juga dapat dibentuk menjadi elemen struktur yang lebih besar ukurannya dengan teknik laminasi atau glulam. Pada teknik ini, kayu-kayu berukuran kecil dilapisi perekat dan kemudin disusun lalu dikempa bersama-sama. Kayu laminasi menjadi produk andalan industri-industri kayu di banyak negara di dunia seperti Selandia Baru, Finlandia, Jepang dan Kanada. Disamping sifat ramah terhadap lingkungan, kayu mereka pilih sebagai material utama untuk bangunan rumah tinggal dan kantor bertingkat rendah karena perilaku yang memuaskan dari bangunan kayu saat dilanda gempa. Bangunan kayu yang dirancang dengan baik bersifat fleksibel atau lentur sehingga dapat mengikuti gerakan gempa dengan tingkat kerusakan yang kecil.

Keberadaan hutan rakyat memberikan harapan banyak untuk upaya peningkatan kesejateraan masyarakat desa dan kualitas lingkungan hidup yang semakin hari semakin menurun akibat pemanasan global oleh gas-gas rumah kaca.

Ali Awaludin

Dosen Struktur Kayu, Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan, UGM
ali@tsipil.ugm.ac.id
http://acadstaff.ugm.ac.id/aliawaludin

What's ON?


Problematika Masyarakat Terdampak Bencana Merapi

Posted on March 20, 2011 by Putrika Gharini

Tulisan ini saya buat sebagai renungan dari penyaluran uneg-uneg yang pernah saya dengarkan dari seorang penghuni Huntara. Saat itu saya sedang bertugas di poliklinik, dan ada seorang ibu berusia 65 tahun yang memeriksakan diri. Setelah saya periksa catatan medisnya, ternyata si ibu sudah terlambat kontrol lebih kurang 1 bulan. Kemudian saya menanyakan kepada pasien, kenapa terlambat memeriksakan diri. Ternyata mereka baru sekarang mempunyai waktu luang untuk periksa, setelah sibuk pindah rumah. Mereka adalah penghuni Huntara di Gondang 1, Cangkringan. Dan karena merasa mengetahui -meski hanya sedikit- kondisi huntara di daerah tersebut, saya menanyakan bagaimana kondisi mereka di huntara tersebut. Dibandingkan dengan kondisi saat tinggal di pengungsian, tentu saja mereka lebih senang tinggal di huntara. Tentu saja dengan berbagai hal yang masih dapat diperbaiki dari huntara. Misalnya saja, konstruksi huntara kurang ideal karena letak jalan yang lebih tinggi daripada rumah, sehingga bila hujan maka air akan mengalir ke dalam rumah. Atau bahwa karena dinding huntara terbuat dari bambu (gedhek), otomatis akan terasa “silir”. Kata si ibu,” Kulo gampang masuk angin!”.

Dari segi pemenuhan makanan, situasi di huntara masih mencukupi. Para penghuni huntara dapat memenuhi kebutuhan pangan berkat bantuan jatah hidup bulanan yang mereka terima. Tetapi sampai kapan jadup akan diberikan, mereka tidak tahu. Dari segi pendidikan anak-anak, saat ini situasi sudah cukup terkendali karena anak-anak dapat kembali bersekolah.

Hanya saja satu masalah yang cukup prinsip masih menggayut di benak mereka. Bagaimanakah kelanjutan hidup mereka nanti? Saat ini masih ada bantuan jatah hidup bulanan yang sedikit banyak mereka handalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tetapi untuk bulan-bulan mendatang, dengan apa mereka bisa membuat dapur mereka tetap mengebul dan anak-anak tetap bisa bersekolah?

Mereka memang mendapatkan uang jatah ganti rugi sapi mereka. Tentunya dengan harapan dari pemerintah bahwa mereka dapat kembali membeli sapi sebagai modal kerja kembali. Tetapi bukankah sapi-sapi itu juga memerlukan kandang dan pakan yang layak? Di huntara saat ini tidak ada tempat yang layak untuk dijadikan kandang. Bukan cuma itu, sapi-sapi itu juga memerlukan pakan yang tidak sedikit. Dulu mereka punya halaman kecil untuk tempat kandang sapi. Dan setiap hari mereka juga para istri-istri cukup sibuk untuk mencari pakan sapi. Tetapi sekarang? Ladang tempat tumbuh pakan sapi sudah menjadi lautan pasir yang gersang, dan sama sekali belum ada tanaman yang tumbuh. Kalaupun ada yang tumbuh, jumlahnya sangat sedikit sehingga sangat tidak memadai untuk dapat memenuhi kebutuhan pakan ternak-ternak mereka. Para ibu-ibu juga tidak bisa lagi membantu suaminya dalam mencari pakan ternak, sehingga mereka sekarang hanya disibukkan sebagai ibu rumah tangga.

Pemikiran saya, jika saja kita terkena suatu masalah, semisal  kekurangan beras, bukankah lebih bijaksana jika kita sesekali mengganti makanan kita dengan non beras, misal dengan ubi, jagung atau sejenisnya, daripada memaksakan diri membeli beras yang harganya mahal?! Bagaimana jika kita terapkan hal yang sama?! Sepertinya tidak gampang untuk bisa mengusahakan kandang ternak dan sekaligus menyediakan pakan untuk sekian banyak ternak. Lalu mengapa tidak mencoba sedikit diversifikasi usaha? Setidaknya bisa jadi pengalihan usaha sementara menunggu rumput tumbuh di ladang pasir. Para ibu-ibu misalnya, bisa digerakkan untuk membikin kerajinan tangan, atau membuat makanan ringan yang tahan lama (sejenis kerupuk atau emping) yang nantinya bisa disalurkan ke tempat2 lain?!  Juga untuk meringankan beban bapak untuk menjaga dapur ngebul, bagaimana jika mulai mengadakan gerakan menanam sayur mayur disekitar  rumah?! Bukankah hal-hal tersebut sering dilakukan para mahasiswa UGM saat melakukan KKN? Apakah ini bisa dimasukkan dalam program pemberdayaan masyarakat? Saya kira, saat ini pasti banyak sekali ide-ide (dari mahasiswa dan dosen UGM) untuk pemberdayaan masyarakat. Bukankah UGM gudangnya para ilmuwan, tidak hanya  ilmu canggih yang dikuasai, tapi sampai ilmu yang paling sederhana namun inovatif? Dapatkah kita mengusahakannya? Bisakah untuk aplikasinya UGM dapat berkolaborasi dengan LSM-LSM pemerhati masyarakat terdampak Merapi yang mungkin juga punya banyak jurus-jurus mengatasi masalah Merapi?

What's ON?


Studi tentang produksi rice bran oil

Posted on March 19, 2011 by Putrika Gharini

Hari Jumat tanggal 18 Maret 2011, seperti biasanya kami mengadakan rapat mingguan UP2R. Namun rapat kali ini terasa istimewa dengan kehadiran  8 orang mahasiswa dari Teknik Kimia  bimbingan Bapak Sang Kompiang Wirawan. Kelompok mahasiswa ini mewakili group yang diberi nama GAMINDHO (GAdjah Mada INDonesian Healthy Oil). Mereka memaparkan cerita singkat  riset mereka tentang rencana pendirian Mini Plant Jogja yang  dapat memproduksi rice bran oil (RBO). Rice bran oil adalah suatu jenis minyak sehat atau healthy oil yang diekstark dari bekatul atau kulit ari beras. Sayangnya sampai sekarang rice bran oil yang ada di Indonesia masih diimpor dari Thailand. Suatu hal yang ironis sekali mengingat negara kita adalah negara agraris, tetapi mengapa tidak mampu memproduksi rice bran oil sendiri. Pertanyaan lain yang menggelitik tentu saja: Jangan-jangan bekatul sebagai hasil sampingan saat penggilingan padi malah diekspor ke Thailand untuk dijadikan bahan mentah rice bran oil.

Ide mereka tentang produksi RBO sangat cemerlang. Bahkan sampai diikuti dengan studi kelayakan pasokan bekatul dari daerah salah satu lumbung padi terbesar di Jawa yaitu di daerah Karawang. Pemaparan yang disampaikan  juga diselingi dengan cerita suka duka mereka saat di Karawang, mulai dari perjalanan mereka yang naik kereta ekonomi bahkan ada yang hampir terjepit antara gerbong kereta, sampai lika liku saat mencari informasi tentang kisaran jumlah produksi dan penggunaan bekatul di Karawang. Suatu hal yang patut diteladani dari anak-anak muda tersebut.

Namun meskipun ide itu sangat cemerlang (bisa dikatakan mereka sudah hampir pada tahap siap produksi) masih terkendala pada pendanaan pembuatan pabrik produksi rice bran oil. Namun semoga usaha mereka bisa membuahkan hasil yang manis termasuk bisa berhasil mencari sumber dana untuk mewujudkan ide mereka. Ada ide?

What's ON?


Acara keakraban keluarga tim UP2R

Posted on March 5, 2011 by Putrika Gharini

Pada hari Minggu, 09 Januari 2011, telah dilaksanakan acara keakraban keluarga tim UP2R dengan tujuan perkenalan keluarga tim UP2R. Acara dibuka oleh ketua UP2R, M. Edhie Purnawan, diikuti dengan ceramah singkat oleh Rektor UGM, Prof. Sudjarwadi. Acara dilanjutkan dengan perkenalan keluarga masing-masing anggota tim UP2R, dan diakhiri dengan permainan keluarga.

Acara ini bersifat spontanitas. Konsumsi selain menu utama yang disediakan oleh UP2R juga diperkaya dengan berbagai jajan pasar atau snack yang dibawa oleh beberapa keluarga, seperti tiwul, grontol, jajan pasar, es buah, goody bag untuk anak-anak dan es krim.  Permainan keluarga juga merupakan kreativitas dari anggota tim (bu Wiwit Wijayanti dan pak Intan Fatah Kumara).

Semoga keakraban tetap terjalin antar keluarga tim sehingga akhirnya dapat menunjang kinerja tim UP2R.

Laporan Pelatihan


Pelatihan Singkat Solusi Optimal Pemberdayaan Sumber Daya Alam Menuju Masyarakat Sejahtera dan Mandiri (Studi Kasus Merapi)

Posted on December 16, 2010 by admin

Unit Percepatan Pencapaian Renstra Universitas Gadjah Mada (UP2R UGM) bekerja sama dengan Satu Untuk Negeri (SUN) TVONE telah menyelenggarakan pelatihan singkat yang bertajuk Solusi Optimal Pemberdayaan Sumber Daya Alam Menuju Masyarakat Sejahtera dan Mandiri pada tanggal 24 hingga 27 November 2010. Pelatihan tersebut diselenggarakan di Ruang Multimedia Gedung Pusat UGM dan melibatkan berbagai elemen masyarakat khususnya yang tergabung sebagai relawan merapi, perwakilan dari lembaga swadaya masyarakat (LSM), pemerintah daerah di wilayah DI Yogyakarta, perwakilan dinas-dinas daerah, alumni UGM, dan perwakilan orang tua mahasiswa UGM.

Informasi Selengkapnya →

Pelatihan Singkat


Solusi Optimal Pemberdayaan Sumber Daya Alam Menuju Masyarakat Sejahtera dan Mandiri 24-27 November 2010

Posted on October 19, 2010 by admin

LATAR BELAKANG

Daerah memiliki tantangan untuk membuat solusi optimal dalam menjadikan kekayaan alam sebagai sumber pendapatan dengan tanpa melupakan perlunya memperkuat daya dukung lingkungan. Penguatan daya dukung lingkungan menjadi isu pentung seiring semakin seringnya bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, kekeringan, banjir dan tanah longsor datang. Ancaman perubahan iklim menjadikan semakin tingginya resiko terjadinya bencana alam seperti sea level rise, kekeringan dan banjir dapat berdampak pada kegagalan panen.

Informasi Selengkapnya →